Opini

Melampaui Modernitas: Tradisi “Ba Coho” di Tanah Mania

SENANDIKA.ID – Memasuki bulan ramadan, masyarakat di kawasan Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), memiliki tradisi khusus, yang diberi nama “ba coho”. Tradisi ini, membuat seseorang mencuci rambutnya, menggunakan cairan dari campuran buah kelapa dan tumbuh-tumbuhan tradisional.

Tradisi unik seperti ini, memang banyak terjadi di masyarakat Indonesia, yang memiliki beragam budaya berbeda. Seperti di masyarakat, Bolaang Mongondow (Bolmong) yang memboyong masyarakatnya untuk mandi bersama di sungai, tradisi masyarakat Bolmut ini, juga demikian.

Ramuan yang digunakan untuk mencuci rambut, disebut dengan coho. Dan ketika ada yang menggunakannya, disebut sedang “ba coho”. Kira-kira, begitulah cara menjelaskan nama tradisi ini, jika dilihat dari cara masyarakat Bolmut menuturkan bahasa sehari-harinya.

Adidaya Datunugu (64) seorang lansia di Kota Boroko (Ibu Kota Bolmut), menjadi salah satu orang, yang masih menjaga dengan baik, tradisi ini dari tahun ke tahun.

Ia mengatakan, tradisi ini membuat setiap orang yang menjalaninya, berbagu wangi, khas tumbuhan tradisional, yang bisa tahan selama beberapa hari, saat menjalani hari-hari di bulan Ramadan.

“Ini harum-haruman, tumbuhan tradisional. Artinya, kita menyambut bulan puasa dengan kesenangan,” ujarnya.

Tradisi “Ba Coho” (Foto: Istimewa)

Menurut Adidaya, Tradisi Ba Coho sudah dilakukannya sejak masih kecil. Ia diajarkan oleh para orang tua terdahulu, untuk melakukan tradisi ini. Sehingga, saat memasuki bulan ramadan, rasanya seperti ada yang khusus dan berbeda, di kalangan masyarakat Bolmut.

Mendahului Ilmu Pengetahuan Modern

Kehadiran tradisi ba coho, yang telah diikuti turun-temurun oleh masyarakat Bolmut, memang sudah seperti menjadi kewajiban. Bukan hanya dikalangan orang tua, para pemuda dan anak-anak pun, selalu diarahkan oleh para orang tuanya, untuk segera ba coho.

Warga asal Bolmut, yang baru pulang dari perantauan, juga seakan diwajibkan untuk melakukan tradisi ini. Tak perduli, seberapa besar status sosial dan seberapa tinggi taraf pendidikannya, tradisi ini wajib dilakukan.

“Yah bagi orang-orang yang tau, kalau ini adalah kewajiban adat kita, yah pasti mereka lakukan. Kecuali mereka yang tidak tau. Alhamdulillah, kalau mereka masih melakukan tradisi ini,” ucap Adidaya.

Padahal, jika dipikir-pikir, sekarang ini ada banyak minyak wangi, yang bertebaran di toko-toko modern, dengan nuansa keharuman yang berbeda-beda. Tapi, masyarakat Bolmut masih dengan teguh mempercayai khasiat dan keharuman dari rutual ba coho ini.

Tradisi kebudayaan masyarakat, memang selalu memiliki nilai, yang sulit untuk dibaca dengan ilmu pengetahuan modern. Berbagai ramuan minyak wangi, yang diolah industri modern, kalah dengan kumpulan tumbuhan rempah-rempah alami, bercampur buah tradisional, yang diolah oleh tangan masyarakat adat.

Masyarakat Bolmut juga, memiliki tradisi tersendiri dalam memperkirakan kapan bulan ramadan akan dimulai. Para nelayan, akan berlabuh ke tengah laut, dan akan melihat sendiri, dengan mata telanjang, posisi bulan. Dari sinilah, mereka bisa menentukan kapan akan mulai melaksanakan puasa Ramadan.

Tak seperti Muhamadiyah yang memerlukan diskusi Panjang antar para pemuka agama, dan NU yang menggunakan berbagai alat canggih, serta metodologi falaknya. Para nelayan di Bolmut hanya cukup melihat bulan, dari posisi laut yang tenang dan terang, untuk memastikan kapan harus memulai puasa Ramadan.

Dihadapan pengamatan mata telanjang para nelayan, hasil pengamatan hilal berbasis teknologi modern yang canggih itu, pupus dan dan tak digunakan masyarakat.

“Kakek akan pergi melaut, dan melihat sendiri posisi bulan. Pulangnya, kakek akan segera memberitahukan kepada kami sekeluarga, kapan akan mulai berpuasa,” ungkap Adidaya.

Kondisi inilah yang membuat masyarakat Bolmut, kerap kali berpuasa Ramadan, jauh berbeda dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, yang memiliki Keputusan berbeda, dalam memulai puasa Ramadan.

Alhasil, masyarakat Bolmut menghadapi 3 pilihan, dalam memulai puasa Ramadan. Mengikut NU dan Pemerintah, Muhamadiyah, atau tradisi yang ada di daerah. Dan tentu, masyarakat yang masih memegang teguh tradisi, akan memili yang terakhir.

Tradisi ini memang telah dijalankan oleh masyarakat, dari para orang tua terdahulu. Mungkin, tradisi ini memang lebih dulu dikenal masyarakat, dibanding ilmu pengetahuan modern.

Memanfaatkan Tumbuhan Tradisional, Jauh dari Kapitalisasi

Pembuatan ramuan coho, terbilang cukup mudah. Adidaya hanya cukup mencari tumbuhan rempah-rampah dan buah kelapa, yang telah diparut. Lalu, bahan-bahan ini segera dicampur, dan dimasak dibelangan, tanpa menggunakan air. Beberapa saat kemudian, ramuan ini siap diangkat, dan digunakan.

“Ini disebut dengan songara. Yaitu memasak, tanpa menggunakan air dan minyak sedikit pun,” bebernya.

Jika butuh menambah tumbuhan, ia cukup meminta ke tetangga sebelah, tanpa harga tertentu. Proses ini benar-benar jauh dari kapitalisasi sumber daya alam, yang biasa terjadi di tempat lain. Mungkin, jika tradisi ini terus membesar, tumbuhan yang dulunya didapatkan dengan mudah dan gratis ini, akan segera memiliki harga tertentu.

Pengguaan ramuannya, juga cukup mudah. Kita hanya perlu menambahkan air secukupnya, di ramuan coho yang telah dimasak tadi. setelah bercampur dengan air, ramuan ini segera diambil airnya, dan dicuci ke kepala masing-masing orang yang ingin ba coho.
“Bagi para orang tua pasti sudah tahu, cara memakainya,” ucap Adidaya.

Sensasi Berbeda di Kulit Kepala

Untuk mengetahui sensasi saat ba coho, saya menanyakannya ke Rivandi (20). Seorang pemuda asli Bolmut, yang sedang tengah berkuliah diluar daerah. Ia mengatakan, setelah ba coho, kepalanya terasa segar dan rileks. Baunya juga harum tradisional.

“Kepala rasa diurut. Rambut juga licin, dan wangi,” ungkap Rivan.

Menciptakan rasa segar dan rileks di kepala seseorang yang ba coho ini, memang membutuhkan teknik khusus, dalam pemakaiannya. Indrawati (42) Ibu dari Rivandi, yang juga telah mengikuti tradisi ini sejak kecil, merasa sudah tau cara memakaikannya ke anak-anaknya.

“Pemakaiannya tidak sembarangan. Harus sambil diurut, agar kepala terasa rileks. Seperti saat lagi menggunakan sampo. Bedanya, ini memakai ramuan tradisional, yang wanginya lebih menyengat,” jelas Indrawati.

Seorang yang telah ba coho, akan mudah diketahui, saat ia berinteraksi dengan banyak orang. Biasanya saat hadir di tongkrongan Ramadan, atau saat mengikuti salat tarawih, yang jamaahnya sering membludak, di awal-awal Ramadan.

Bau rambut yang khas, dan berkilau, menjadi pertanda seseorang telah mengikti tradisi ini. Tak jarang, kalangan anak muda bercanda tentang tradisi ini, kepada anak muda yang lain. “so ba coho ngoni?” sebuah candaan khas, dengan logat daerah.

Kepala Berminyak Harus Segeralah Dibersihakan

Setelah mengikuti tradisi ini, sangat diharapkan untuk segera mandi, dan membersihkan sisa-sisa ramuan, yang masih tertinggal di kepala. Ramuan coho yang terdapat buah kelapa didalamnya, membuat kepala penggunannya, akan berminyak dan bisa turun merembes hingga ke bagina badan lainnya.

“Harus segera mandi, dan bersihkan bagian punggung kepala. Karena pasti berminyak,” jelas Indrawati, menyuruh Rivan segera mandi, usai ba coho.

Melestarikan tradisi memang penting, namun menjaga kebersihan juga lebih penting. Yah kali, sementara melaksanakan salat tarawih, ada sisa-sisa parutan kelapa yang jatuh di sajadah, dan bagian tubuh yang lengket. Sungguh, bisa mengganggu fokus dalam ibadah.

Menjaga Tradisi, Berarti Menjaga Silaturahmi

Meskipun terbilang mudah dilakukan, nyatanya sudah jarang masyarakat yang membuat ramuan coho ini. Adidaya sendiri, mengaku sering membagikan ramuan yang ia buat, kepada para tetangga, dan keluarga yang membutuhkan.

“Yah ambil saja secukupnya. Lalu digunakan untuk siapa saja yang mau,” ujarnya.

Kesederhanaan tradisi daerah, bisa membuat keakraban masyarakat Bolmut lebih kuat, menjelang pelaksanaan ramadan. Sebagai orang tertua di keluarga, adidaya sangat menjaga tradisi ini, dan melestarikannya kepada keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

“Mungkin kalau nenek sudah meninggal, tradisi ini akan hilang dikeluarga kita,” ujar Adidaya.

Disela-sela usiannya yang telah lanjut, Adidaya memang sangat menjaga tradisi daerah, dan hubungan kekeluargaan yang hidup di masyarakat Bolmut. Sama seperti tradisi sahur dan buka puasa bersama keluarga, di hari pertama Ramadan.

Penulis: Rivaldi Hapili

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Ayahqqklik66klik66klik66ayahqqlonteqqklik66ayahqqhalubet76klik66klik66klik66klik66https://lingkarwilis.com/mail/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/albo-sindacale/https://www.medicallifesciences.org.uk/ckfiles/bandarqq/index.htmlhttps://kampungdigital.id/wp-includes/js/pkv-games/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/bandarqq/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/about/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/wp-includes/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/pkv/https://dutapendidikan.id/.private/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/dominoqq/https://ramanhospital.in/js/pkv-games/https://ramanhospital.in/js/bandarqq/https://ramanhospital.in/js/dominoqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/pkv-games/https://sunatrokifun.com/wp-includes/bandarqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/dominoqq/https://inl.co.id/themes/pkvgames/https://inl.co.id/themes/bandarqq/https://inl.co.id/themes/dominoqq/https://vyrclothing.com/https://umbi.edu/visit/https://newtonindonesia.co.id/pkv-games/https://newtonindonesia.co.id/bandarqq/https://newtonindonesia.co.id/dominoqq/https://dkpbuteng.com/dock/pkv-games/https://dkpbuteng.com/dock/bandarqq/https://dkpbuteng.com/dock/dominoqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/pkv/https://tamanzakat.org/wp-includes/bandarqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/dominoqq/https://rsiaadina.com/rs/pkv-games/https://rsiaadina.com/rs/bandarqq/https://rsiaadina.com/rs/dominoqq/https://cheersport.at/doc/pkv-games/SLOT4DSLOT4D
?>