Berita PopulerOpini

Menjaga Martabat Binadou: Dari Pinggiran yang Disadari

Penulis: Setiawan Adi Setyo

SENANDIKA.IDSejarah telah cukup panjang mengajari mereka satu hal: yang hari ini disebut pelengkap, esok dapat menjelma menjadi penentu.

Binadou, 14 Februari 2026.

Sikap yang lahir dari Binadou bukanlah penolakan membabi buta terhadap wacana PBMR. Ia tumbuh dari kesadaran yang lebih dalam: menjaga martabat sejarah yang terlalu sering dipadatkan menjadi sekadar “pelengkap administratif”. Jika BMR adalah sebuah teks politik, maka selama ini Binadou kerap dibaca sebagai catatan kaki–hadir, tetapi tidak sungguh-sungguh diperhitungkan.

Seperti diingatkan Gadamer, memahami bukanlah menelan makna yang telah selesai dirumuskan; memahami adalah perjumpaan cakrawala. Namun pertanyaan yang tak boleh dihindari tetap menggantung: cakrawala siapa yang dilebur? Dan siapa yang selalu diminta melebur lebih dahulu?

Mereka di Binadou tidak pernah alergi terhadap integrasi. Sejarah Kaidipang, Bintauna, dan Bolangitang membuktikan bahwa wilayah ini akrab dengan perjumpaan lintas kuasa, persilangan dagang, dan konsensus politik. Mereka bukan entitas yang tumbuh dalam keterasingan; mereka bertumbuh melalui dialog, negosiasi, dan kesepakatan sejarah.

Namun setiap integrasi meninggalkan residu pengalaman. Dan pengalaman itulah yang membentuk kesadaran kolektif: kesadaran tentang bagaimana rasanya berada di pinggiran dalam narasi besar yang lebih sering ditulis dari pusat. Sejarah efektif–yang bekerja senyap dalam memori sosial–membuat mereka tidak tergesa-gesa dalam bersorak.

Jika PBMR hendak menyandang kata “Raya”, maka ia tak boleh lahir dari ingatan yang selektif dan romantisme yang parsial.

Ada yang bertanya dengan nada penyederhanaan: “Bukankah kita satu darah Mongondow?”

Pertanyaan itu terdengar akrab, tetapi terlalu ringkas untuk menjelaskan kenyataan yang kompleks. Sebagaimana diingatkan Wilhelm Dilthey, pengalaman historis tidak pernah seragam. Ia berlapis-lapis, terikat konteks, ditempa oleh luka, ketekunan, dan dinamika sosial.

Mereka di Binadou menyimpan ingatan tentang jalan yang lama terabaikan, akses politik yang sempit, dan representasi yang lebih simbolik daripada substantif. Mereka tidak menolak kesatuan genealogis. Mereka hanya menolak amnesia kolektif.

Mereka tidak menolak darah. Mereka menolak lupa.

Makna tidak pernah final. Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein — makhluk yang memahami dirinya dari kemungkinan masa depan yang ia pilih. Jika PBMR adalah kemungkinan itu, maka wajar bila pertanyaan mengemuka: masa depan siapa yang sedang dirancang?

Apakah ia akan menjadi rumah bersama dengan fondasi kesetaraan?
Ataukah sekadar bangunan megah dengan ruang tamu luas di depan dan lorong sempit di belakang untuk Binadou?

Pertanyaan itu bukan bentuk pembelahan. Ia adalah kewaspadaan yang lahir dari pengalaman.

Mereka di Binadou tidak sedang memecah kebersamaan. Mereka justru menegaskan bahwa “Raya” tanpa keadilan hanyalah gema kosong–lantang di permukaan, rapuh di kedalaman. Otonomi tanpa distribusi penghormatan hanyalah pemindahan pusat dominasi dari satu koordinat ke koordinat lain.

Jika dahulu Bolaang Mongondow pernah merasakan getirnya menjadi pinggiran dalam relasi dengan Sulawesi Utara, maka pola subordinasi itu tak semestinya diwariskan dalam skala yang lebih kecil. Luka sejarah tidak boleh dipindahkan seperti pusaka yang dianggap lumrah.

Mereka tidak berbicara tentang distribusi kursi kuasa. Mereka tidak menghitung jabatan. Martabat bukan komoditas politik yang dinegosiasikan di meja kalkulasi. Yang mereka jaga adalah prinsip: bahwa suara Binadou tidak boleh menjadi ornamen administratif, melainkan bagian dari arah dan makna.

Sebagaimana ditegaskan Habermas, ruang publik yang sehat adalah ruang komunikasi yang bebas dari dominasi. Jika PBMR hendak lahir dengan legitimasi moral, ia harus ditempa dalam dialog yang jujur dan setara–bukan dalam tekanan massa, bukan dalam euforia etnis, bukan dalam ketergesaan elite.

Biarlah PBMR diuji dalam percakapan yang dewasa.

Biarlah “Raya” benar-benar berarti luas–bukan semata luas wilayahnya, tetapi luas keadilannya; bukan sekadar bentangan peta, tetapi bentangan penghormatan.

Mereka di Binadou tidak anti-PBMR. Mereka anti terhadap lupa.

Mereka berdiri bukan sebagai pihak yang memohon pengakuan, melainkan sebagai subjek sejarah yang terlalu lama dibaca sepihak. Mereka tidak berteriak, karena harga diri tidak membutuhkan kebisingan. Ia membutuhkan keteguhan.

Jika PBMR ingin menjadi keramik yang utuh, maka retakan itu jangan ditutup dengan cat kosmetik. Ia harus diperbaiki dari fondasinya–dari struktur, dari niat, dari cara pandang yang setara.

Karena tanpa Binadou yang ikhlas dan dihormati,
“Raya” hanya akan menjadi gema yang rapuh–dan sejarah, dengan ketegasannya yang sunyi, akan kembali mencatatnya sebagai teks yang gagal memahami dirinya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Ayahqqklik66klik66klik66ayahqqlonteqqklik66ayahqqhalubet76klik66klik66klik66klik66https://lingkarwilis.com/mail/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/https://dellacortevanvitelli.edu.it/argomento/albo-sindacale/https://www.medicallifesciences.org.uk/ckfiles/bandarqq/index.htmlhttps://kampungdigital.id/wp-includes/js/pkv-games/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/bandarqq/https://kampungdigital.id/wp-includes/js/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/about/dominoqq/https://youthspaceinnovation.com/wp-includes/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/pkv/https://dutapendidikan.id/.private/bandarqq/https://dutapendidikan.id/.private/dominoqq/https://ramanhospital.in/js/pkv-games/https://ramanhospital.in/js/bandarqq/https://ramanhospital.in/js/dominoqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/pkv-games/https://sunatrokifun.com/wp-includes/bandarqq/https://sunatrokifun.com/wp-includes/dominoqq/https://inl.co.id/themes/pkvgames/https://inl.co.id/themes/bandarqq/https://inl.co.id/themes/dominoqq/https://vyrclothing.com/https://umbi.edu/visit/https://newtonindonesia.co.id/pkv-games/https://newtonindonesia.co.id/bandarqq/https://newtonindonesia.co.id/dominoqq/https://dkpbuteng.com/dock/pkv-games/https://dkpbuteng.com/dock/bandarqq/https://dkpbuteng.com/dock/dominoqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/pkv/https://tamanzakat.org/wp-includes/bandarqq/https://tamanzakat.org/wp-includes/dominoqq/https://rsiaadina.com/rs/pkv-games/https://rsiaadina.com/rs/bandarqq/https://rsiaadina.com/rs/dominoqq/https://cheersport.at/doc/pkv-games/SLOT4DSLOT4D
?>