Opini

Ibu yang Kewalahan Berbahasa: Cerita Kecil dari Kesenjangan yang Besar

Penulis: Salman Alade

SENANDIKA.ID – Ibuku tak pernah benar-benar jauh dari rumah. Seumur hidupnya, beliau tinggal di kampung kecil di Gorontalo, mengurus keluarga, dan menjadi juru masak andalan bukan hanya di rumah kami, tetapi juga di setiap hajatan tetangga. Dapur adalah tempat beliau memerintah, berkreasi, dan menunjukkan cintanya yang paling sunyi. Jadi, ketika untuk pertama kalinya saya ajak beliau ke Yogyakarta—ribuan kilometer dari rumah, dari tanah yang akrab dengan lidah dan pikirannya—saya tahu ini akan menjadi perjalanan yang tidak hanya fisik, tapi juga linguistik.

Kota yang Menyambut, Bahasa yang Membingungkan

Ibuku mengaku, secara jujur, beliau kewalahan tinggal di Yogyakarta. Tapi bukan karena suasananya. Justru, beliau sangat menikmati tinggal di kota ini. Ada binar yang berbeda dalam matanya setiap kali ia berjalan menyusuri trotoar Malioboro, duduk di pinggiran jalan depan Tugu Pal Putih sambil menyeruput teh hangat di angkringan, atau sekadar menemani saya berbelanja di pasar tradisional. Tidurnya selalu lelap setiap malam, seolah Yogyakarta memberinya ruang istirahat yang tak pernah beliau dapatkan di kampung halaman.

Namun, keluhan itu datang dari sesuatu yang lebih halus: bahasa. “Mama susah mengerti kalau mereka bicara cepat pakai bahasa Indonesia,” keluhnya suatu pagi, sepulang dari pasar. “Mereka ngomongnya cepaaat… dan kayak digabung-gabung semua kata.” Di lain waktu, beliau juga sempat bercerita tentang kerepotan melayani pembeli di warung makan kecil yang kami buka: Dapur Li Mima—nama yang saya sematkan untuk menghormati sosoknya. Warung itu menyajikan makanan khas Gorontalo; sebuah ruang baru tempat beliau melanjutkan kecintaannya pada masakan kampung, kini di tanah orang.

Ibuku bukan tidak bisa bahasa Indonesia. Beliau menonton televisi, mendengar radio, sesekali menonton youtube, dan tentu belajar bahasa Indonesia sejak sekolah dasar. Tapi, bahasa Indonesia yang akrab di telinganya adalah bahasa Indonesia yang kaku, formal, dan dipelajari lewat buku pelajaran. Bukan bahasa yang cepat, cair, dan bercampur logat Jawa seperti yang digunakan di Yogyakarta.

Bahasa Cinta yang Lebih Mudah Dikuasai

Yang menarik, di tengah kekhawatirannya itu, ibuku justru fasih menyebutkan nama-nama rempah dalam bahasa Indonesia. “Kalau di sini mereka bilang jahe, kunyit, sereh, lengkuas,” katanya sambil menunjuk ke isi tas belanja kami. “Kalau di rumah, kita bilang goraka, alawahu, baramakusu, linggoboto’.” Saya terkesiap. Betapa beliau hafal seluruh padanan itu. Tanpa kamus. Tanpa pelatihan.

Saya menyadari satu hal: bahasa akan dikuasai manusia jika berkaitan dengan sesuatu yang ia cintai. Ibuku mencintai dapur. Dunia kecil tempat beliau merasa berkuasa dan berguna. Maka, bahasa yang berhubungan dengan dunia itu akan otomatis beliau pelajari, bahkan jika itu bukan bahasa ibunya.

Kesenjangan Bahasa: Kenyataan yang Sering Terabaikan

Fenomena ini membuka mata saya akan realitas sosiolinguistik yang sering kita abaikan: kesenjangan bahasa Indonesia antarwilayah. Saya berani bertaruh bahwa ibuku bukan satu-satunya orang Indonesia dari timur yang merasa “kurang lancar” berbahasa Indonesia dalam konteks antarbudaya. Ini bukan soal bodoh atau pintar. Ini soal representasi dan keberpihakan bahasa.

Bahasa Indonesia, dalam sejarahnya, dibentuk dari akar bahasa Melayu Riau yang banyak digunakan di wilayah barat Indonesia. Ia tumbuh dan dikembangkan di pusat-pusat kekuasaan—Batavia, Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar di Jawa. Buku pelajaran, media massa, iklan televisi, hingga platform digital, semuanya mayoritas menggunakan ragam bahasa Indonesia ala barat atau beraksen Jawa. Maka, wajar bila seseorang dari timur, yang sehari-hari menggunakan bahasa daerah sebagai alat komunikasi utama, merasa canggung atau inferior ketika harus “menyesuaikan diri”.

Kita menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Tapi realitanya, ia belum benar-benar berhasil mempersatukan jika hanya bisa dipakai nyaman oleh sebagian penduduk negeri ini. Ketika seseorang seperti ibuku merasa “kewalahan” karena tidak fasih berbahasa Indonesia seperti orang-orang di Jawa, itu menandakan adanya celah yang belum tertutup.

Berbahasa Indonesia di Tanah Orang

Di sisi lain, saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang di Jawa sangat terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks informal. Mereka bicara santai dengan bahasa Indonesia, bercanda, memarahi, bahkan marah-marah dengan bahasa Indonesia. Ini berbeda dengan orang di daerah saya, yang lebih memilih dialek daerah dalam konteks emosional atau percakapan akrab. Bahasa Indonesia kami simpan untuk ruang formal: upacara bendera, pidato, atau jika berbicara dengan “orang luar”.

Celakanya, standar kemampuan berbahasa Indonesia kemudian diasosiasikan dengan cara orang-orang di Jawa atau barat berbicara. Jika seseorang berbicara dengan logat kental atau struktur kalimat yang tidak sesuai Ejaan Yang Disempurnakan, ia dianggap belum fasih. Padahal, dalam kenyataannya, variasi bahasa Indonesia itu sangat kaya dan beragam, tergantung dari siapa yang memakai dan dalam konteks apa ia dipakai.

Cerita Kecil, Masalah Besar

Cerita ibuku hanyalah satu pintu kecil untuk melihat masalah besar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional belum sepenuhnya menjadi milik semua warga negara. Masih ada ketimpangan. Masih ada perasaan asing terhadap bahasa yang katanya milik bersama. Dan kita perlu jujur akan hal ini, jika memang serius ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kita butuh pendekatan baru dalam pengajaran bahasa Indonesia, yang lebih menghargai latar belakang kultural dan linguistik setiap pelajar. Kita butuh media yang menampilkan beragam logat dan warna dalam bahasa Indonesia. Kita butuh keberanian untuk menyebut bahwa “berbahasa Indonesia dengan logat Gorontalo” itu sah, sama sahnya dengan logat Jakarta atau Jogja. Dan kita butuh masyarakat yang tidak cepat-cepat menghakimi orang yang sedang berusaha.

Dapur, Kamus yang Tak Tertulis

Suatu hari, ibuku bertanya, “Kenapa ya, beberapa pembeli terlihat bingung saat membaca menu ‘Sambal Goreng Hati Gabah’?” Saya mencoba menjelaskan dengan sederhana bahwa dalam bahasa Indonesia, gabah biasanya merujuk pada butir padi yang masih berkulit. Ia tertawa kecil dan berkata, “Kalau di kampung, kami memang biasa menyebut paru sapi itu gabah, entah sejak kapan. Tapi mama tahu juga, istilah lainnya memang paru.” Saya tersenyum. Beliau memahami dunia baru lewat dunia lamanya—menjembatani dua bahasa bukan dengan kamus, tapi dengan pengalaman dan ingatan.

Dari ibuku, saya belajar bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cermin dari cinta, pengalaman, dan keberanian menjelajah dunia baru. Dan setiap orang berhak merasa tidak kewalahan di rumahnya sendiri—termasuk di rumah yang bernama bahasa Indonesia.

_______________

Biodata Penulis:
Salman Alade, Mahasiswa Doktoral Ilmu Pendidikan Bahasa, yang berasal dari Gorontalo dan sedang berdomisili sementara di Yogyakarta. Senang menulis puisi, sesekali menulis cerpen, esai, dan opini. Beberapa waktu terakhir, tertarik menulis dan meneliti buku cerita anak.
Akun Media Sosial: @salmenulis_ (Instagram)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
?>