HUT Boltara: Sembilan Belas Tahun di Persimpangan Jalan
Oleh: Setiawan Adi Setyo
SENANDIKA.ID – Sembilan belas tahun lalu, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) lahir dari sebuah harapan besar. Harapan bahwa pemekaran akan mendekatkan pelayanan kepada rakyat. Harapan bahwa pembangunan tidak lagi terpusat di wilayah tertentu. Harapan bahwa masyarakat di pesisir utara Bolaang Mongondow dapat menikmati kesejahteraan yang lebih merata di tanahnya sendiri.
Hari ini, ketika Boltara memasuki usia ke-19, pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi seberapa lama daerah ini berdiri, melainkan sejauh mana cita-cita para pendiri itu telah terwujud.
Pertanyaan itu penting karena usia 19 tahun bukan lagi usia untuk terus-menerus bernostalgia tentang perjuangan pemekaran. Ini adalah usia untuk melakukan evaluasi yang jujur. Sebab daerah tidak dibangun oleh seremoni ulang tahun, baliho ucapan selamat, atau panggung hiburan yang meriah. Daerah dibangun oleh keberanian melihat kenyataan, termasuk kenyataan yang tidak selalu menyenangkan.
Harus diakui, banyak kemajuan telah dicapai. Infrastruktur berkembang, pelayanan pemerintahan semakin dekat, dan aktivitas ekonomi tumbuh dibanding masa-masa awal pemekaran. Namun di balik capaian itu, masih terdapat pekerjaan rumah yang belum selesai dan bahkan sebagian semakin kompleks.
Ironisnya, di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, isu kesejahteraan masih menjadi perbincangan di banyak ruang. Boltara memiliki laut yang luas, lahan pertanian yang subur, hutan yang kaya, serta kandungan mineral yang bernilai ekonomi tinggi. Tetapi kekayaan alam tidak otomatis menjelma menjadi kesejahteraan apabila tata kelolanya tidak berjalan dengan baik.
Di sinilah Boltara sedang berada: di persimpangan jalan antara eksploitasi dan keberlanjutan.
Persoalan lingkungan menjadi salah satu alarm yang semakin keras terdengar. Hutan yang seharusnya menjadi benteng kehidupan perlahan menghadapi tekanan. Sungai yang mestinya menjadi sumber kehidupan mulai menghadapi ancaman sedimentasi. Kawasan pesisir yang menopang kehidupan nelayan menghadapi berbagai risiko ekologis.
Sayangnya, isu lingkungan sering kali baru menjadi perhatian ketika bencana datang. Ketika sungai meluap, ketika jalan terendam banjir, ketika lahan pertanian rusak, atau ketika hasil tangkapan nelayan menurun. Padahal menjaga lingkungan jauh lebih murah daripada memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
Pertanyaan yang perlu diajukan secara jujur adalah: apakah pembangunan yang berlangsung hari ini benar-benar memperhitungkan daya dukung lingkungan? Ataukah kita sedang mewariskan persoalan kepada generasi berikutnya atas nama pertumbuhan ekonomi jangka pendek?
Pertanyaan yang sama juga berlaku pada sektor pertambangan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa tambang menawarkan harapan ekonomi. Banyak masyarakat menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut. Perputaran uang terjadi. Lapangan pekerjaan terbuka. Di tengah keterbatasan kesempatan kerja, tambang sering dipandang sebagai jalan keluar tercepat.
Namun sejarah di berbagai daerah telah mengajarkan satu hal: tambang yang tidak dikelola dengan baik lebih sering meninggalkan masalah daripada kesejahteraan.
Konflik lahan, kerusakan lingkungan, pencemaran sungai, hingga kecelakaan kerja adalah risiko nyata yang tidak bisa ditutupi oleh angka-angka pertumbuhan ekonomi. Nyawa manusia tidak dapat diganti dengan keuntungan investasi. Lingkungan yang rusak tidak mudah dipulihkan hanya dengan janji reklamasi.
Karena itu, usia ke-19 harus menjadi momentum bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti memandang sumber daya alam hanya sebagai objek eksploitasi. Yang dibutuhkan bukan sekadar investasi, tetapi investasi yang bertanggung jawab. Bukan sekadar pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Di tengah euforia terhadap sektor ekstraktif, ada satu sektor yang justru kerap terlupakan padahal menjadi penyangga kehidupan masyarakat sejak lama: pertanian.
Padahal jika berbicara tentang masa depan Boltara, pertanian seharusnya berada di garis depan, bukan di pinggiran perencanaan pembangunan.
Kabupaten ini memiliki lahan yang luas, petani yang berpengalaman, dan tradisi agraris yang kuat. Namun pertanyaannya, sudahkah sektor pertanian benar-benar diperlakukan sebagai prioritas?
Masih banyak petani yang menghadapi persoalan klasik: irigasi yang belum optimal, akses pupuk yang tidak selalu mudah, fluktuasi harga hasil panen, hingga minimnya regenerasi petani. Di banyak tempat, anak-anak muda lebih tertarik meninggalkan sektor pertanian karena melihatnya tidak menjanjikan masa depan yang layak.
Ini adalah peringatan serius!
Daerah yang kehilangan petani sesungguhnya sedang kehilangan kemampuan untuk memberi makan dirinya sendiri. Daerah yang membiarkan lahan pertanian menyusut tanpa kendali sedang mempertaruhkan ketahanan pangannya di masa depan.
Karena itu, wacana swasembada pangan tidak boleh berhenti sebagai slogan di podium-podium resmi. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang berpihak kepada petani. Petani membutuhkan irigasi, akses modal, teknologi, pasar yang adil, serta perlindungan terhadap lahan produktif mereka.
Jika pertambangan menghasilkan keuntungan dalam hitungan tahun, pertanian menjamin keberlangsungan hidup lintas generasi.
Lebih jauh lagi, tantangan terbesar Boltara sebenarnya bukan semata soal infrastruktur, lingkungan, atau ekonomi. Tantangan terbesar adalah kualitas sumber daya manusia.
Masih terlalu banyak generasi muda yang harus pergi keluar daerah untuk mencari peluang yang tidak mereka temukan di kampung halaman. Masih banyak talenta yang tumbuh di Boltara tetapi berkembang di tempat lain karena ruang untuk berkarya di daerah sendiri belum cukup tersedia.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka yang terjadi bukan hanya perpindahan tenaga kerja, tetapi perpindahan masa depan.
Karena itu, pembangunan ke depan harus lebih berani menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan. Pendidikan harus ditingkatkan. Pelatihan keterampilan harus diperluas. Ruang kreativitas harus dibuka. Generasi muda harus diberi alasan untuk percaya bahwa mereka dapat sukses tanpa harus meninggalkan daerahnya.
Usia ke-19 seharusnya menjadi momen kejujuran kolektif. Momen untuk mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang belum selesai. Momen untuk berhenti berpuas diri terhadap capaian-capaian administratif. Dan momen untuk mulai memikirkan warisan seperti apa yang ingin ditinggalkan kepada generasi berikutnya.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah daerah bukanlah seberapa megah perayaan hari jadinya. Ukuran keberhasilan adalah seberapa banyak rakyat yang merasakan manfaat pembangunan. Seberapa terjaganya lingkungan yang diwariskan kepada anak cucu. Seberapa kuat sektor pertanian yang menopang kehidupan masyarakat. Dan seberapa besar kesempatan yang diberikan kepada generasi muda untuk meraih masa depan.
Sembilan belas tahun lalu, Boltara lahir dari keberanian untuk bermimpi. Kini, setelah hampir dua dekade berdiri, tantangannya bukan lagi bagaimana membentuk daerah ini, melainkan bagaimana memastikan daerah ini tidak kehilangan arah.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak spanduk yang terpasang saat ulang tahun daerah. Sejarah akan mengingat apakah generasi hari ini mampu menjaga tanah warisan ini tetap lestari, adil, dan layak dihuni bagi generasi yang akan datang.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Semoga usia ini bukan sekadar penambahan angka, melainkan momentum untuk memperbaiki yang kurang, membenahi yang keliru, dan memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat.




