SENANDIKA.ID – Kelompok Hamas menyatakan siap membebaskan sandera Israel-Amerika, Edan Alexander, yang diyakini sebagai tawanan terakhir berkewarganegaraan AS yang masih hidup di Gaza, Senin (12/5/2025).
Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata di tengah krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di wilayah tersebut.
Keputusan pembebasan ini diumumkan menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Timur Tengah pada Selasa. Hamas menyebut tindakan ini juga bertujuan untuk memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang telah berada di bawah blokade penuh Israel selama 70 hari.
Dilansir dari laporan BBC, seorang pejabat senior Hamas mengungkapkan bahwa kelompok tersebut sedang mengadakan negosiasi langsung dengan pejabat pemerintah AS di Qatar.
Pertemuan lanjutan dijadwalkan pada Senin pagi guna menyelesaikan proses pembebasan Alexander, yang akan membutuhkan penghentian sementara aktivitas militer Israel, termasuk penangguhan operasi udara.
Israel Belum Komit Gencatan Senjata
Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa mereka belum berkomitmen terhadap gencatan senjata, namun membuka “koridor aman” untuk pembebasan Alexander. Mereka menegaskan bahwa tekanan militer terhadap Hamas akan terus ditingkatkan.
“Negosiasi akan dilakukan di bawah tekanan, berdasarkan komitmen untuk mencapai semua tujuan perang,” ujar pernyataan resmi kantor PM Benjamin Netanyahu.
Trump: ‘Berita Monumental’
Presiden Donald Trump mengonfirmasi kabar ini melalui platform Truth Social, menyebutnya sebagai “berita monumental” dan “langkah itikad baik”. Ia dijadwalkan tiba di kawasan Timur Tengah pada hari Selasa.
Foto Edan Alexander terlihat dalam sebuah demonstrasi di Israel yang menuntut pembebasan sandera yang tersisa
Edan Alexander, 21 tahun, lahir di Tel Aviv dan dibesarkan di New Jersey. Ia bertugas di unit infanteri elit Israel di perbatasan Gaza saat ditangkap oleh militan Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023. Dari 251 orang yang disandera Hamas kala itu, 59 masih ditahan, dan sekitar 24 diyakini masih hidup. Alexander diduga sebagai satu-satunya warga negara AS yang masih hidup di antara mereka.
Keluarga Sambut Haru
Keluarga Alexander menyambut kabar ini dengan haru, menyebutnya sebagai “hadiah terbesar yang bisa dibayangkan”.
“Kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada Presiden Trump, Steve Witkoff, dan pemerintah AS atas kerja keras mereka,” ungkap keluarga Alexander.
Mereka juga menyerukan agar pembebasan ini menjadi awal dari negosiasi untuk membebaskan 58 sandera lainnya.
Reaksi Internasional
Mesir dan Qatar merilis pernyataan bersama yang menyebut pembebasan Alexander sebagai “langkah menggembirakan menuju dimulainya kembali perundingan”. Hamas sendiri menegaskan bahwa tindakan ini adalah bagian dari upaya untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan mengizinkan masuknya makanan serta obat-obatan ke Gaza.
Situasi Kemanusiaan Kian Memburuk
Kondisi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Blokade total Israel selama 70 hari telah menyebabkan krisis pangan dan kesehatan. PBB melaporkan lebih dari 10.000 kasus kekurangan gizi akut di kalangan anak-anak, dan harga pangan meningkat hingga 1.400%.
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mencatat bahwa sejak pertengahan Maret, operasi militer Israel telah menewaskan 2.720 warga Palestina. Total korban tewas sejak awal perang mencapai 52.829 orang, sementara serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 disandera.
Pemerintah Israel berencana memperluas serangan militer jika kesepakatan tidak tercapai dalam kunjungan Trump, termasuk rencana perebutan wilayah permanen dan distribusi bantuan melalui perusahaan swasta, meski ditentang oleh PBB dan mitra kemanusiaannya.