Opini

Navigasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia di Era Globalisasi

SENANDIKA.ID – Berbicara mengenai politik luar negeri, tentu negara yang sangat familiar untuk kita sebut adalah Amerika. Apa yang terjadi pada negara tersebut kerap kali menjadi trend global.

Salah satu yang menjadi isu trend global yang dikenal berasal dari Amerika adalah isu tentang LGBT, yang sekarang bahkan udah bertambah menjadi LGBTQIA25+.

Jumlah anak muda di Amerika Serikat yang mengidentifikasi diri sebagai LGBTQ+ ditemukan meningkat.

Salah satu penyebab peningkatan tersebut diyakini akibat dari terjadinya istilah yang disebut ‘penularan sosial’ dan normalisasi homoseksualitas.

Hal itu membuat generasi yang lebih muda, sangat rentan, dan percaya bahwa mereka harus mengidentifikasi diri sebagai LGBTQ.

Penularan sosial terkait dengan sikap, kepercayaan, dan perilaku yang dapat menyebar ke seluruh populasi seolah-olah menular.

Bahkan, diketahui sejak masa kepemimpinan Joe Biden dan Harris, ada kurang lebih 209 orang yang masuk dalam kategori LGBTQ+, diangkat dan untuk mengisi posisi sebagai pejabat publik. Bahkan mereka dengan terang-terangan mendeklarasikan bahwa mereka adalah LGBTQ+.

Budaya LGBTQ+ bukan merupakan budaya khas Indonesia, tetapi dia masuk melalu kurangnya filtrasi negara terhadap budaya yang masuk ke Indonesia. Artinya, ini tak bisa dipisahkan dari upaya westernisasi yang terjadi di Indonesia.

Ada banyak solusi untuk menekan tumbuh dan berkembangnya budaya tersebut, pertama, menghadirkan aturan yang jelas sebagai wujud keseriusan pemerintah dan unsur masyarakat akan isi tersebut, berikut dengan memasifkan doktrin anti LGBTQ+ hingga di dunia pendidikan dengan menerapkan kurikulum anti LGBTQ, juga bisa dengan mendorong hukum adat untuk diterapkan di daerah.

Meskipun, hal yang paling akan berbenturan dengan pemberantasan masalah atau isu tersebut adalah jaminan negara tentang hak asasi manusia (HAM). Hal ini yang hingga sekarang menjadikan isu LGBTQ+ belum mendapatkan solusi konkret untuk pemberantasan atau minimal tidak menekan tumbuh dan berkembangnya masalah tersebut.

Penulis: Mohamad Ryfan Abdjul
(Review materi dari Ayunda Prof. Popy Rufaidah, S.E., M.B.A., Ph.D.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
?>