Rocky Gerung Masuk Istana: Kritik yang Diuji oleh Kekuasaan

SENANDIKA.ID – Masuknya Rocky Gerung ke Istana Kepresidenan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bukan sekadar perpindahan tempat duduk. Ini adalah perubahan posisi yang membawa konsekuensi politik dan simbolik.
Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai salah satu suara yang keras mengkritik kekuasaan. Ia berbicara dari luar pemerintahan, mengomentari kebijakan, mempertanyakan keputusan penguasa, dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari ruang publik yang bebas memberi kritik.
Kini, panggungnya berubah. Rocky berada di dalam lembaga resmi yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden.
Dari luar pagar kekuasaan, ia kini berada di salah satu ruang tempat keputusan politik negara dibicarakan.
Di sinilah persoalan sebenarnya dimulai: apakah seorang pengkritik akan tetap kritis ketika memperoleh tempat di dalam lingkar kekuasaan?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar mempertanyakan apakah Rocky telah “dibungkam”. Sebab, pembungkaman adalah tuduhan serius.
Perubahan posisi seseorang, dengan sendirinya, belum membuktikan adanya pembatasan terhadap kebebasan berbicara. Menjadi Wantimpres tidak otomatis membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Justru sebaliknya, jabatan tersebut dapat menjadi ujian yang lebih berat.
Ketika kritik disampaikan dari luar kekuasaan, risikonya berbeda. Seorang komentator bebas menunjuk kesalahan pemerintah tanpa harus ikut memikul tanggung jawab atas proses pengambilan keputusan.
Tetapi ketika seorang pengkritik masuk ke dalam sistem, situasinya berubah. Ia tidak lagi hanya dituntut untuk berbicara, tetapi juga memberikan pertimbangan.
Di sinilah Rocky akan diuji. Ketika menemukan kebijakan yang menurut pertimbangannya bermasalah, apakah ia akan menyampaikannya dengan tegas?
Jika nasihatnya tidak diterima Presiden, apakah ia tetap mempertahankan pendiriannya? Dan jika kepentingan kekuasaan bertabrakan dengan prinsip yang selama ini ia suarakan, posisi mana yang akan dipertahankan?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa ditemukan dalam seremoni pelantikan. Jawabannya akan terlihat dari sikap setelahnya.
Jabatan tidak otomatis membungkam seseorang, tetapi jabatan juga dapat mengubah cara seseorang berbicara, memilih isu, dan menentukan batas kritiknya.
Karena itu, publik tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Rocky telah kehilangan independensinya. Namun publik juga tidak perlu memberikan cek kosong bahwa ia akan tetap menjadi pengkritik kekuasaan seperti sebelumnya.
Keduanya harus dibuktikan.
Ada paradoks yang menarik. Selama ini, Rocky membangun reputasinya sebagai intelektual yang berani berdiri berseberangan dengan kekuasaan.
Kini ia justru memperoleh posisi di dalam institusi yang berada dekat dengan pusat kekuasaan. Paradoks tersebut tidak harus dianggap sebagai kontradiksi.
Kritik memang tidak selalu harus berada di luar pemerintahan. Dalam demokrasi, kritik dapat hadir di parlemen, kampus, media, ruang publik, dan bahkan di dalam ruang kekuasaan itu sendiri.
Persoalannya bukan di mana kritik disampaikan, melainkan apakah kritik tersebut tetap memiliki keberanian untuk menyentuh kekuasaan ketika memang diperlukan.
Karena itu, publik tidak perlu sibuk menebak apakah Rocky telah berubah pada hari pertama ia berada di Istana. Biarkan waktu yang mengujinya.
Jika ia tetap berani menyampaikan pertimbangan yang tidak menyenangkan penguasa, keberadaannya di Wantimpres dapat dilihat sebagai perpindahan arena kritik: dari luar kekuasaan ke dalam ruang tempat kekuasaan mengambil keputusan.
Namun jika kritik semakin jarang terdengar dan pertanyaan-pertanyaan keras yang dahulu biasa ia lontarkan mulai menghilang, publik juga berhak mempertanyakan apa yang telah berubah.
Sebab, independensi bukanlah gelar. Independensi dibuktikan ketika seseorang berani mempertahankan pandangan bahkan ketika pandangan itu tidak menguntungkan dirinya sendiri.
Rocky kini memiliki kesempatan untuk membuktikannya, bukan kepada para pendukung ataupun para pengkritiknya, melainkan kepada publik.
Pada akhirnya, ujian Rocky Gerung bukanlah apakah ia berhasil masuk Istana. Ia sudah masuk.
Ujian sebenarnya adalah apakah setelah masuk Istana ia masih sanggup mengatakan kepada kekuasaan apa yang memang perlu dikatakan, termasuk ketika kebenaran itu tidak nyaman untuk didengar.
Di situlah kritik berhenti menjadi identitas dan mulai menjadi keberanian.
Kalau ingin, saya juga bisa memendekkan lagi menjadi 10–12 paragraf dengan gaya editorial koran, sehingga lebih padat dan memiliki pukulan yang lebih kuat di setiap paragraf.
(SAS)




