Antara Asap Bara & Botol Miras: Ketika Daging Kurban Kehilangan Kesakralannya
Oleh: Setiawan Adi Setyo
SENANDIKA.ID – Ada sesuatu yang terasa menyesakkan ketika melihat daging kurban dibakar di tengah pesta minuman keras. Bara api menyala, asap mengepul ke udara malam, gelak tawa pecah di antara botol-botol alkohol yang berserakan. Sekilas mungkin tampak seperti pertemuan biasa anak muda yang sedang menikmati malam. Namun bagi banyak orang, pemandangan itu menyimpan ironi yang dalam.
Sebab yang sedang dibakar di atas bara itu bukan sekadar daging.
Ia adalah bagian dari ibadah. Ia lahir dari niat pengorbanan. Ia berasal dari tangan orang-orang yang menyisihkan hartanya demi menjalankan perintah agama dan berbagi kepada sesama. Daging kurban seharusnya membawa pesan kepedulian sosial, rasa syukur, dan ketakwaan. Tetapi hari ini, sebagian justru berakhir sebagai “cemilan” pesta miras.
Dan yang lebih menyedihkan, fenomena seperti ini perlahan dianggap biasa.
Kita hidup di zaman ketika batas antara yang sakral dan yang banal semakin kabur. Nilai-nilai agama tidak lagi dihormati sebagaimana mestinya. Simbol ibadah dipakai sebatas tradisi tahunan, tanpa benar-benar dipahami maknanya. Kurban dilakukan, takbir dikumandangkan, tetapi pesan spiritualnya berhenti hanya sampai di halaman masjid.
Setelah itu, semuanya kembali larut dalam gaya hidup yang kehilangan arah.
Sebagian orang mungkin akan menanggapi persoalan ini dengan santai. “Itu hak pribadi,” kata mereka. “Yang penting dagingnya tidak dibuang.” Kalimat seperti ini terdengar sederhana, tetapi justru menunjukkan bagaimana masyarakat mulai kehilangan sensitivitas moral.
Karena persoalannya bukan sekadar makan daging.
Persoalannya adalah tentang penghormatan terhadap sesuatu yang dianggap suci oleh agama. Dalam Islam, kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan. Ia adalah simbol ketaatan dan keikhlasan, meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS. Sementara minuman keras secara jelas diharamkan karena dianggap merusak akal, moral, dan kehidupan sosial.
Ketika daging kurban dipertemukan dengan pesta miras, maka yang terjadi bukan hanya pelanggaran norma agama, tetapi juga bentuk kegagalan memahami esensi ibadah itu sendiri.
Ironinya, fenomena ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari lingkungan sosial yang perlahan kehilangan rasa malu terhadap hal-hal yang dulu dianggap tidak pantas. Banyak orang hari ini merasa bebas melakukan apa saja selama tidak langsung merugikan orang lain. Nilai agama ditempatkan sebagai urusan pribadi, bukan lagi pedoman moral dalam kehidupan sosial.
Akibatnya, masyarakat mulai terbiasa melihat hal-hal yang seharusnya mengganggu nurani.
Kita menyaksikan minuman keras dikonsumsi secara terbuka. Kita melihat anak-anak muda menganggap mabuk sebagai hiburan. Kita menemukan pesta-pesta malam yang berujung keributan, kekerasan, bahkan tindak kriminal. Namun semua itu perlahan dianggap bagian dari gaya hidup modern.
Dan ketika daging kurban ikut masuk dalam lingkaran itu, maka sesungguhnya ada pesan besar yang sedang disampaikan: bahwa kesakralan agama mulai kehilangan tempat di hati sebagian manusia.
Lebih jauh lagi, fenomena ini memperlihatkan adanya kekosongan pendidikan moral di tengah masyarakat. Banyak generasi muda tumbuh tanpa benar-benar memahami makna dari tradisi keagamaan yang mereka jalani. Mereka tahu cara merayakan hari besar agama, tetapi tidak memahami nilai yang dikandungnya.
Akibatnya, segala sesuatu dipandang hanya dari sisi konsumsi dan kesenangan.
Daging kurban tidak lagi dipandang sebagai simbol ibadah, melainkan sekadar makanan gratis yang bisa dimanfaatkan sesuka hati. Ketika cara pandang seperti ini terus berkembang, maka jangan heran jika suatu hari masyarakat benar-benar kehilangan rasa hormat terhadap nilai-nilai yang dulu dijunjung tinggi.
Padahal, Iduladha mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menyembelih hewan.
Ia mengajarkan manusia tentang pengendalian diri. Tentang keikhlasan melepas ego dan hawa nafsu. Tentang kepedulian terhadap mereka yang kekurangan. Tentang bagaimana manusia seharusnya mendekat kepada Tuhan melalui pengorbanan dan ketaatan.
Namun hari ini, sebagian justru menjadikan momen itu sebagai alasan untuk berpesta tanpa arah.
Tentu tulisan ini bukan untuk menghakimi siapa pun secara personal. Tetapi masyarakat juga tidak boleh diam ketika sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai moral mulai dianggap lumrah. Sebab kerusakan moral tidak selalu datang dalam bentuk kejahatan besar. Ia sering lahir dari pembiaran terhadap hal-hal kecil yang terus diulang hingga akhirnya dianggap normal.
Hari ini mungkin hanya soal daging kurban yang dijadikan teman miras.
Besok, bisa jadi nilai agama lainnya ikut kehilangan kehormatan.
Dan ketika masyarakat sudah tidak lagi mampu membedakan mana yang patut dihormati dan mana yang sekadar hiburan sesaat, maka sesungguhnya kita sedang berjalan menuju krisis yang lebih besar: krisis nurani.
Sebab bangsa yang kehilangan kekayaan masih bisa bangkit. Bangsa yang kehilangan kekuasaan masih bisa bertahan. Tetapi masyarakat yang kehilangan rasa hormat terhadap nilai moral dan agama, perlahan akan kehilangan arah hidupnya sendiri.
Tabik.




