NasionalPendidikan

55 Ribu Sekolah Direvitalisasi, Pemerintah Targetkan 80 Ribu hingga Akhir 2026

SENANDIKA.ID, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut lebih dari 55.000 satuan pendidikan telah direvitalisasi selama dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi hampir 80.000 satuan pendidikan hingga akhir 2026. Revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah dengan kerusakan berat, sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta satuan pendidikan yang terdampak bencana.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh ruang belajar yang aman dan layak.

“Pak Presiden berkali-kali menyampaikan tidak boleh ada sekolah yang atapnya roboh, tidak boleh ada yang toiletnya kotor, tidak boleh ada kelas yang rusak dan sebagainya,” ujar Abdul Mu’ti dalam program TvOne, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, mandat Presiden Prabowo sejalan dengan Asta Cita keempat untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul sekaligus memperkuat ideologi Pancasila, budaya, dan bahasa.

Selain pembangunan fisik, Kemendikdasmen juga memperluas digitalisasi pembelajaran. Sepanjang 2025, sebanyak 288.865 papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP) telah dikirimkan ke satuan pendidikan di berbagai daerah.

Pada 2026, pemerintah menargetkan distribusi lebih dari 700.000 perangkat tambahan sehingga jumlah IFP yang tersedia dalam dua tahun dapat melampaui satu juta unit.

Abdul Mu’ti menegaskan, digitalisasi bukan sekadar penyediaan perangkat, tetapi harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas guru dan dukungan infrastruktur.

“Program digitalisasi itu paketnya ada empat. Pertama tentu saja adalah perangkatnya, yang kedua adalah laptop, yang ketiga yaitu pelatihan guru, dan yang keempat adalah fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan juga materi pembelajarannya,” jelasnya.

Pemanfaatan teknologi juga diarahkan untuk memperluas akses pembelajaran bagi murid berkebutuhan khusus. Fitur audio pada IFP, misalnya, dapat membantu murid tunanetra mengikuti pembelajaran. Sementara itu, guru di sekolah luar biasa di Kudus telah mengembangkan materi pembelajaran berbantuan kecerdasan artifisial (AI) bagi murid tunarungu.

IFP juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium virtual untuk membantu murid memahami berbagai konsep sains melalui simulasi.

Untuk sekolah yang menghadapi keterbatasan listrik dan internet, pemerintah menyiapkan sejumlah solusi. Kemendikdasmen bekerja sama dengan PLN untuk memperluas akses listrik serta menyiapkan panel surya bagi sekolah yang belum terjangkau jaringan listrik.

Perangkat IFP juga dilengkapi penyimpanan materi pembelajaran sehingga dapat digunakan meski sekolah belum memiliki akses internet.

Di sektor tenaga pendidik, Kemendikdasmen menjalankan kebijakan peningkatan kualitas guru melalui pendekatan 3K, yakni kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan.

Lebih dari 200.000 guru yang belum memiliki kualifikasi D4 atau S1 diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dengan dukungan beasiswa sebesar Rp3 juta per semester untuk setiap guru.

Peningkatan kompetensi guru dilakukan melalui berbagai pelatihan, antara lain pembelajaran mendalam, bimbingan konseling, koding dan kecerdasan artifisial, STEM, serta bahasa Inggris.

Pemerintah juga meningkatkan dukungan kesejahteraan guru. Tunjangan sertifikasi bagi guru non-ASN naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan. Sementara insentif bagi guru yang belum bersertifikat meningkat dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan.

Kemendikdasmen turut mendorong penguatan peran guru wali untuk memastikan pendampingan murid tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga persoalan psikologis, kesulitan belajar, dan kondisi keluarga yang dapat memengaruhi proses pendidikan.

Sementara itu, Tes Kemampuan Akademik (TKA) digunakan sebagai salah satu instrumen evaluasi untuk membantu guru, orang tua, dan murid mengetahui capaian pembelajaran serta aspek yang masih perlu diperbaiki.

Ke depan, Kemendikdasmen akan mempercepat revitalisasi satuan pendidikan, memperluas digitalisasi pembelajaran, serta meningkatkan kapasitas guru melalui berbagai program pelatihan dan kemitraan.

Kemitraan tersebut antara lain dilakukan bersama Inovasi Australia dan McGill University Kanada.

Abdul Mu’ti menegaskan, transformasi pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari pemerintah, guru, orang tua, masyarakat hingga para pemangku kepentingan lainnya.

“Murid jadilah pembelajar sepanjang hayat. Guru juga jadilah pendidik dan pembelajar sepanjang hayat,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
?>