Review Film Gowok: Warisan atau Luka Budaya Patriarki?
Sebuah Kritik atas Romantisasi Tradisi dan Tubuh Perempuan dalam Bingkai Budaya Jawa
SENANDIKA.ID – Film Gowok: Kamasutra Jawa (2025), karya Hanung Bramantyo, membawa kita ke Bumiayu tahun 1955–1965 suatu masa ketika tubuh perempuan masih diperlakukan sebagai ruang pendidikan, pemuas, sekaligus simbol kehormatan keluarga. Namun, lebih dari itu, film ini membuka ruang refleksi kritis tentang bagaimana budaya yang dianggap luhur dapat melegitimasi kekuasaan patriarki dalam bentuk paling halus: pendidikan seks pra-nikah yang dikemas dalam warisan tradisi.
Oleh: Lis Purnama

Warisan Leluhur atau Alat Patriarki?
Lewat tokoh Nyai Santi (Lola Amaria), seorang gowok tersohor, film ini memperkenalkan kembali tradisi Jawa kuno: gowok. Dalam versi sinematik ini, tradisi tersebut digambarkan sebagai sistem pengajaran seksualitas dan kehidupan rumah tangga oleh perempuan berpengalaman kepada bangsawan muda sebelum menikah. Kamandjaya (Devano Danendra), remaja dari keluarga terpandang, menjadi “murid” dalam proses ini. Namun, yang menarik, bukan hanya prosesi gowok yang menjadi pusat cerita, melainkan konflik emosional dan struktural antara keinginan bebas seorang perempuan dengan ketatnya kontrol budaya.
Tokoh Ratri (Alika Jantinia/Raihaanun), perempuan muda yang sejak kecil dipersiapkan untuk meneruskan ilmu gowok, menjadi representasi penting resistensi dalam film ini. Meski dilatih untuk menjadi simbol kesempurnaan dalam pelayanan dan penguasaan tubuh, Ratri justru memberontak: menolak jalan hidup yang ditentukan untuknya.
Namun sayangnya, film tampak melompati detil penting dalam tradisi gowok itu sendiri. Dalam kenyataannya, prosesi gowok tidak sekadar “antar dan jemput” seperti digambarkan film. Terdapat upacara simbolik, spiritual, dan etika tertentu yang mengawalinya dan menutupnya. Penyederhanaan ini berpotensi mereduksi warisan budaya menjadi semata ritual seksual, dan menjadikan perempuan sebagai sarana, bukan subjek utama dalam tradisi.
Tubuh Perempuan sebagai Ruang Kekuasaan
Dalam banyak adegan, tubuh perempuan ditampilkan bukan sebagai milik dirinya sendiri, melainkan arena “pendidikan” bagi laki-laki dan ajang pertaruhan harga diri keluarga. Adegan Ratri dan Kamandjaya yang dirasuki roh nafsu di tengah malam saat ritual, lalu akhirnya menyerah pada hasrat, seolah hendak menyiratkan bahwa perempuan tak mampu mengendalikan keinginan biologis. Ini berbahaya karena memperkuat stereotip lama bahwa “gagal menjaga diri” adalah kesalahan perempuan.
Lebih ironis lagi, ketika Ratri ingin lepas dari peran sebagai gowok, ia dihambat oleh Nyai Santi tokoh perempuan yang justru merepresentasikan sistem patriarki internalisasi. Nyai Santi, meski perempuan, menggunakan perannya sebagai penjaga tradisi untuk melanggengkan kontrol atas perempuan muda, menunjukkan bagaimana budaya patriarkal bisa hidup melalui tubuh perempuan itu sendiri.
Cinta yang Dimanipulasi oleh Kelas dan Kekuasaan
Kisah cinta Ratri dan Kamandjaya menunjukkan bagaimana status sosial membatasi kebebasan personal. Hubungan mereka dihancurkan oleh rekayasa surat-menyurat yang dilakukan oleh ibu Kamandjaya dan Nyai Santi. Di sini, film memperlihatkan bagaimana cinta yang setara menjadi tidak mungkin ketika kelas sosial dan kehormatan keluarga lebih dipentingkan.
Namun, kritik muncul karena film ini seolah mengembalikan kekuatan perempuan melalui dendam. Ratri, setelah dikhianati dan ditinggalkan, menjelma menjadi gowok hebat yang justru menggunakan ilmu tersebut untuk membalas. Apakah ini bentuk pemberdayaan? Atau justru pengulangan dari kekuasaan yang sama tubuh sebagai alat kendali dan perlawanan?
Penutup: Antara Budaya dan Kesadaran Feminis
Di akhir film, Ratri digambarkan telah menikah dan memiliki keluarga terpandang. Namun pertanyaan tetap menggantung: apakah ia benar-benar bebas, ataukah ini sekadar pelampiasan dendam yang dibalut dengan keberhasilan simbolik? Film ini tidak memberikan jawaban tegas, tetapi justru meninggalkan ruang bagi kita untuk bertanya: apakah tradisi seperti gowok bisa dipertahankan tanpa menjadikan tubuh perempuan sebagai objek?
Film Gowok: Kamasutra Jawa layak diapresiasi karena berani mengangkat tema yang jarang dibahas di ruang publik. Namun, sebagai tontonan yang membawa muatan budaya, film ini perlu dibaca secara kritis agar tak terjebak dalam glorifikasi tradisi yang problematik. Kita butuh lebih banyak cerita di mana perempuan tak hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga pencipta masa depan yang lebih adil dengan tubuh, suara, dan pilihan mereka sendiri.




