Dari Narkoba, Miras, hingga Nyawa Melayang: PETI Paku Selatan dalam Lingkaran Pembiaran?
SENANDIKA.ID – Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Desa Paku Selatan, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), kembali menjadi sorotan publik.
Belum tuntas isu dugaan peredaran narkoba, kawasan tambang ilegal ini kembali diwarnai insiden yang berujung pada hilangnya satu nyawa.
Peristiwa tersebut menimpa seorang penambang berinisial C-W (laki-laki), warga Desa Paku Selatan, yang ditemukan meninggal dunia pada malam hari di area PETI Paku Selatan.
Berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, insiden kali ini diduga berkaitan dengan konsumsi minuman keras. Namun hingga kini, motif dan penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian.
Berdasarkan keterangan sejumlah penambang yang dihimpun dari berbagai sumber, peredaran minuman keras di lokasi PETI Paku Selatan bukanlah fenomena baru. Aktivitas jual beli miras disebut telah berlangsung lama dan kerap terjadi secara terbuka, tanpa pengawasan yang memadai.
Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang sosial yang rawan konflik dan kekerasan. Sejumlah saksi menyebutkan bahwa pada malam kejadian, korban berada di kamar tidur bersama istrinya. Tak lama kemudian, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Saksi lain mengungkapkan adanya luka tusuk di bagian belakang tubuh korban. Di sekitar lokasi kejadian juga ditemukan satu bilah senjata tajam. Meski demikian, hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah luka tersebut akibat penikaman atau kemungkinan lainnya.
Status kematian korban masih berada pada tahap praduga, dengan dua kemungkinan yang sama-sama belum terkonfirmasi, yakni bunuh diri atau pembunuhan.
Korban diketahui dievakuasi dari lokasi tambang sekitar pukul 00.30 WITA. Rekan-rekan korban menggambarkan C-W sebagai pribadi pendiam dan jarang berinteraksi jika tidak diajak berbicara. Ia juga dikenal menjaga kebersihan dan merawat diri selama berada di lokasi tambang.
Menanggapi insiden tersebut, Sergio Manggopa menilai kematian C-W tidak dapat dilepaskan dari kondisi PETI Paku Selatan yang selama ini minim pengawasan.

Menurutnya, berdasarkan keterangan sejumlah penambang, peredaran minuman keras di lokasi tambang tersebut sudah sangat masif dan tidak terkendali.
“PETI Paku Selatan kembali melahirkan korban. Kali ini bukan narkoba, tapi diduga akibat minuman keras. Dari keterangan penambang lain, memang penjualan miras di lokasi itu sudah sangat banyak. Puncaknya kejadian tadi malam yang merenggut satu nyawa,” ujar Sergio.
Ia menyayangkan rentetan kejadian yang terus berulang di lokasi yang sama. Menurutnya, belum lama ini publik juga dihebohkan dengan dugaan peredaran narkoba di PETI Paku Selatan, namun belum terlihat langkah penertiban yang tegas.
“Ini sangat disesalkan. Kemarin narkoba, sekarang diduga akibat miras satu nyawa melayang. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan aparat, khususnya Polres Boltara, terhadap PETI Paku Selatan,” tegasnya.
Sergio menilai kepolisian sebagai ujung tombak penegakan hukum dan pengamanan wilayah seharusnya mampu membaca risiko dan mengambil langkah pencegahan lebih awal.
“Kalau PETI Paku Selatan tidak segera ditertibkan, saya khawatir akan memakan lebih banyak korban. Kejadian-kejadian ini layak menjadi rapor merah dalam pengawasan dan penegakan hukum di wilayah tersebut,” tandasnya.
Rentetan peristiwa ini memunculkan pertanyaan publik mengenai sejauh mana pengawasan aparat terhadap kawasan PETI Paku Selatan. Bagaimana peredaran minuman keras bisa berlangsung bebas di lokasi tambang ilegal, apakah pernah dilakukan razia rutin, serta mengapa persoalan serupa terus berulang tanpa penyelesaian yang tuntas.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab kematian korban maupun langkah konkret penertiban PETI Paku Selatan.




