Opini

Manusia sebagai Makhluk Penilai

SENANDIKA.ID – Interaksi sehari-hari berpotensi memberikan pelajaran tak ternilai. Situasi yang paling sederhana pun menjadi pintu inspirasi untuk mengalami transformasi.

Pada dasarnya, orang-orang yang termarjinalisir di masa lampau dengan sikap dan pilihan yang ia ambil. sikap dan pilihannya akan menjadi bahan evaluasi oleh orang-orang yang pernah memarjinalkan.

Mark Manson dalam “sebuah seni bersikap bodoh amat” mengisahkan, ‘Harles Bokowski’, seorang pecandu alkohol, penjudi, kasar, pelit dan tukang utang yang suka berjudi dengan wanita.

Ia bercita-cita menjadi seorang penulis. Karya Bukowski selalu ditolak oleh hampir semua majalah, namun ia tidak menyerah dan terus menulis dan mengarang puisi.

Waktu adalah konsekuensi dari perubahan, atau suatu satuan untuk mengukur evolusi apapun itu. Termasuk evolusi dari cetakan di dalamnya.

Cara kerja semesta manusia terkesan seperti pabrik penilaian. Ada penilaian yang diproduksi, didistribusi, dikonsumsi, dan juga dibuang. Itu adalah sirkulasi tanpa akhir manusia sebagai makhluk penilai.

Sehingga, pada akhirnya realitas tidak mengenal ‘andai begini’ dan ‘andai begitu’. Apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Itu sebabnya sabar dan narimo (syukur) menjadi hal sentral dalam laku spritual Manusia.

Tentang sabar dan syukur, Kanjeng Jalaluddin Rumi menempatkan syukur di atas sabar. Dalam salah satu puisinya ia bertutur:

“Kesabaran berkata padaku, tenanglah wahai jiwa, kekasihmu akan segera tiba. Sementara syukur berkata padaku, ‘wahai jiwa, kekasihmu telah tiba.”

Bergembiralah…!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
?>