Masih Pantaskah Kampus Disebut sebagai Mata Air Cendekiawan?
SENANDIKA.ID – Belakangan ini, kampus sepertinya tidak lagi seramah apa yang tergambarkan dalam pikiran, seakan-akan tak lagi mampu menerima dan memberi ketenteraman bagi para pengunjungnya untuk menyelami khazanah ilmu pengetahuan. Bak sinar rembulan yang tertutupi badai-badai gelap.
Dalam tradisi ilmu pengetahuan, ruang-ruang yang tersematkan “akademis” mestinya memberikan nuansa yang bersifat humanis dan dialektis, tidak justru sebaliknya, dehumanis, antipati, bahkan membatasi hadirnya ruang percakapan.
Sebagai kelompok terdidik, sering kali kita berjumpa dengan situasi atau pola pendidikan mencemaskan, yang bahkan sepantasnya tidak dihadirkan di dalam ruang-ruang akademis. Entah, apa yang perlu dibanggakan dengan pola tersebut. Saya pikir tidak.
Hemat saya, sebagai seorang pendidik, penghardikan terhadap kelompok terdidik di dalam ruang pendidikan adalah bentuk perlakuan bengis yang tidak bisa dibenarkan. Ya, ketika dibiarkan, pola semacam itu akan menggerus kelompok terdidik semakin tenggelam dalam kubangan tirani. Kalau disederhanakan, baiknya disebut tindakan amoral.
Meminjam Paulo Freire dalam bukunya “Pendidikan Kaum Tertindas” bahwa dalam dunia pendidikan yang harusnya terjadi antara pendidik dengan yang dididik adalah bagaimana memastikan proses dialektika itu hidup. Namun, pada realitasnya tidak demikian. Justru jauh dari apa yang diharapkan oleh Paulo Freire dan para kelompok terdidik.
Semakin ke sini, sangat disayangkan, tawaran percakapan sehat yang seharusnya menjadi lokus sirkulasi pengetahuan, alhasil sering kali berujung pada percakapan yang sifatnya intimidasi. Kendati, dalam tradisi diskursus ilmu pengetahuan hal itu memuakkan.
Perlu dipahami, sebagai seorang akademisi, sudah seharusnya menciptakan dan membiasakan diri dengan iklim diskursus yang sehat. Satu lagi, basis fundamen seorang pendidik adalah mereka yang bisa menjadi teladan bagi para didikannya.
Terima kasih.
Panjang umur hal-hal baik.




