PariwisataRegional

Salman Alade Berharap Lahir Festival Sastra Gorontalo

SENANDIKA.ID, GORONTALO – Mewakili penulis dari Gorontalo dalam satu dekade Festival Sastra Banggai (FSB), Salman Alade tidak hanya berbagi pengalaman tentang proses kreatif dan lokalitas dalam karya sastra. Pada malam penutupan festival, 18 Oktober 2026, ia juga menyampaikan harapan agar Gorontalo kelak memiliki festival sastra sendiri.

Festival Sastra Banggai mengusung tema Layar Kesepuluh: Yang Tak Pernah Kuncup dan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong. Perayaan satu dekade ini menjadi ruang perjumpaan bagi penulis dari berbagai daerah untuk berbagi gagasan dan merayakan sastra bersama.

Selama festival, Salman mengisi dua sesi panel. Sesi pertama berlangsung pada 14 Oktober 2026 di Kampus Universitas Muhammadiyah Luwuk, sekaligus menjadi peluncuran buku puisinya, Yang Tanggal dan Tinggal dari Hari-Harimu, terbitan BaBiBuBeBooks (B5). Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dan masyarakat umum.

Selama kurang lebih dua jam, Salman membagikan cerita di balik proses kreatif puisi-puisi yang terhimpun dalam buku tersebut. Ia juga membahas cara menerbitkan karya melalui berbagai platform digital sastra dan media arus utama, mulai dari mengumpulkan tulisan hingga merangkainya menjadi sebuah buku.

Menurut Salman, menulis merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan latihan konsisten dan keberanian untuk membuka diri terhadap pembaca. Penolakan dari redaktur, misalnya, merupakan bagian dari perjalanan kepenulisan yang perlu dihadapi.

Tidak ada proses instan untuk menjadi penulis. Menulis hari ini, menerbitkan buku besok, lalu menjadi penulis best seller lusa bukanlah gambaran yang realistis tentang perjalanan kepenulisan.

Karena itu, Salman menekankan pentingnya menjadikan menulis sebagai kebiasaan (habit), terutama bagi mereka yang ingin menekuninya secara profesional. Pada akhir sesi, ia menyampaikan ajakan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari audiens: daripada kebingungan menyalurkan patah hati, mengapa tidak mengubahnya menjadi tulisan yang berpeluang menghasilkan royalti?

Sesi panel kedua berlangsung pada 15 Oktober 2026 di RTH Teluk Lalong. Kali ini, Salman membawakan tema Gorontalo dalam Karya-Karya Salman Alade di hadapan masyarakat umum dan mahasiswa Universitas Tompotika Luwuk.

Dalam sesi yang berlangsung sekitar dua jam itu, ia menjelaskan bagaimana lokalitas Gorontalo hadir dalam berbagai bentuk tulisannya, mulai dari puisi, cerpen, esai, hingga cerita anak.

Bagi Salman, menghadirkan lokalitas bukan sekadar menjadikan daerah asal sebagai pernak-pernik atau tempelan dalam karya. Unsur-unsur yang berakar dari Gorontalo justru menjadi titik berangkat, bahkan pusat gagasan, dalam tulisan-tulisannya.

Ia memandang kemampuan memperkenalkan tanah kelahiran melalui tulisan sebagai salah satu bentuk kebanggaan. Salman ingin pembaca mengenali dirinya sebagai penulis dari Gorontalo melalui karya-karya yang mengangkat berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan daerah tersebut.

Untuk membuka percakapan tentang hubungan sastra dan tempat, Salman mengajukan pertanyaan kepada audiens: jika diminta menulis tentang Banggai hari ini, apa yang akan mereka tuliskan?

Sejumlah jawaban muncul. Ada yang ingin mengangkat keindahan alam Banggai, sementara yang lain tertarik menulis tentang luka-luka yang dialami daerah itu, persoalan pertambangan, krisis alam, dan berbagai persoalan lainnya.

Bagi Salman, beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa sebuah tempat tidak hanya menyimpan keindahan untuk dirayakan, tetapi juga persoalan yang perlu dibaca, dicatat, dan disuarakan melalui karya. Sastra, dalam hal ini, dapat menjadi ruang untuk mengenali kembali tempat yang ditinggali beserta berbagai perubahan dan persoalan yang berlangsung di dalamnya.

Dari Festival Sastra Banggai ke Gorontalo

Setelah lima hari berlangsung, Festival Sastra Banggai ditutup pada 18 Oktober 2026. Dalam acara penutupan, para penulis dari berbagai daerah yang hadir diminta naik ke panggung untuk menyampaikan kesan dan umpan balik selama mengikuti festival.

Saat mendapat giliran berbicara, Salman menyampaikan harapan yang terinspirasi oleh sambutan Ama Gaspar selaku Direktur Utama Festival Sastra Banggai. Dalam sambutannya, Ama menceritakan bahwa FSB lahir berkat dorongan kuat almarhumah Lily Yulianti Farid, Direktur Utama Makassar International Writers Festival (MIWF).

Kisah tersebut membuat Salman memikirkan bagaimana sebuah festival sastra dapat menginspirasi lahirnya ruang-ruang perayaan sastra di daerah lain. Jika Makassar International Writers Festival dapat menjadi salah satu inspirasi bagi Festival Sastra Banggai, ia berharap FSB juga dapat mendorong lahirnya festival sastra di Gorontalo.

“Jika MIWF bisa melahirkan FSB, saya berharap dengan hadirnya saya di satu dekade FSB, FSB bisa melahirkan Festival Sastra Gorontalo,” ujar Salman saat menyampaikan impresinya pada malam penutupan festival.

Harapan itu berangkat dari keyakinan bahwa Gorontalo memiliki jejak sastra, para penulis, ingatan kolektif, dan cerita-cerita lokal yang layak dirawat serta diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi Salman, menghadirkan Gorontalo dalam karya merupakan salah satu cara merawat kebanggaan terhadap tanah kelahiran. Namun, ia juga membayangkan ruang yang lebih besar bagi sastra Gorontalo: sebuah festival yang mempertemukan penulis, pembaca, dan berbagai gagasan tentang daerah tersebut.

Barangkali, suatu hari nanti, Gorontalo tidak hanya menjadi daerah asal penulis yang datang sebagai tamu di festival sastra daerah lain. Gorontalo juga dapat menjadi tempat yang mengundang penulis dari berbagai penjuru untuk berkumpul dan merayakan sastra bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
?>