SENANDIKA.ID, GORONTALO – Video potongan orasi dalam aksi unjuk rasa Jilid III Elemen Pemuda Gorontalo yang digelar di depan Kantor Gubernur Gorontalo, Senin, 5 Oktober 2026, viral dan menuai beragam tanggapan di media sosial.
Orator aksi, Fahrul Wahidji, menjadi sorotan setelah sejumlah warganet menilai gaya penyampaian dan diksi yang digunakan dalam orasinya terlalu keras serta dianggap tidak sesuai dengan etika ketimuran masyarakat Gorontalo.
Menanggapi sorotan tersebut, Fahrul mengatakan gaya komunikasi setiap orang berbeda. Ia menilai penyampaian dalam aksi demonstrasi tidak dapat disamakan dengan gaya komunikasi birokrasi.
Menurutnya, kemarahan yang disampaikan dalam orasi tersebut memiliki latar belakang persoalan yang menjadi tuntutan massa.
“Apakah mungkin dengan dorongan orasi dan kemarahan baru aspirasi ini diterima? Saya tidak bisa menjelaskan, tapi faktanya begitu. Kami bawa aspirasi bukan karena suka atau tidak suka dengan orang, tapi atas kemarahan rakyat,” ujar Fahrul saat dikonfirmasi.
Fahrul juga menanggapi penggunaan sejumlah diksi keras dan makian lokal yang muncul dalam video yang beredar.
Ia menyebut penggunaan bahasa tersebut merupakan bagian dari gimik dalam suasana aksi yang memanas dan tidak ditujukan kepada pribadi tertentu.
“Persoalan moral dan etika, yah saya pahami Gorontalo katanya daerah beradat (adati hula-hula to syareati). Tapi dalam kerangka hukum atau peraturan daerah yang mengatur spesifik soal diksi unjuk rasa, undang-undang menyampaikan pendapat pun tidak menuliskannya secara kaku,” katanya.
Menurut Fahrul, kontroversi mengenai gaya orasi jangan sampai menggeser perhatian publik dari substansi tuntutan yang dibawa Elemen Pemuda Gorontalo.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah persoalan, di antaranya terkait aktivitas pertambangan di Gorontalo, kebijakan BBM yang dinilai berdampak terhadap masyarakat, serta penegakan hukum yang menurut mereka masih menyisakan persoalan.
Fahrul mengatakan perjuangan yang mereka lakukan tidak didasarkan pada persoalan pribadi dengan pihak tertentu.
Ia juga menyatakan siap mempertanggungjawabkan substansi perjuangan tersebut melalui data, kajian dan riset.
“Kritiklah saya habis-habisan. Perjuangan akan terus ada, dan kami akan tetap mengawal kemaslahatan rakyat,” pungkasnya.
Dalam aksi Jilid III tersebut, Elemen Pemuda Gorontalo akhirnya diterima untuk melakukan audiensi dengan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail.
Sejumlah persoalan pertambangan dan tuntutan lainnya kemudian dibahas dalam pertemuan tersebut. Pemerintah Provinsi Gorontalo dan elemen pemuda juga menyepakati adanya pertemuan lanjutan untuk membahas persoalan pertambangan secara lebih khusus.




